Kumpulan Pengertian Menurut Para Ahli

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2022

Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli

Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli

Pengertian Teks Eksplanasi 

Teks eksplanasi merupakan salah satu pemebalajran yang terdapat di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Tujuan pembelajaran teks ekplanasi adalah agar peserta didik mampu mengetahui bagaimana proses terjadinya peristiwa dan mampu membuat sebuah teks eksplanasi. 

Terdapat beberapa ahli yang memaparkan mengenai pengertian teks eksplanasi. 

Isnatun dan Farida (2013.) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial”. Berdasarkan pemaparan tersebut, teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang terjadinya suatu fenomena dari proses awal hingga akhir. Artinya, siswa perlu mengetahui bagaimana terjadinya suatu fenomena di alam sekitarnya.

Kosasih (2008) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menyajikan tentang fenomena alam yang bersifat informatif dan faktual”. Berdasarkan pemaparan tersebut, teks eksplanasi harus bersifat informatif dan faktual. Alasan teks eksplanasi bersifat informatif dan faktual adalah agar teks eksplanasi tersebut memiliki manfaat bagi pembaca dan dapat terpercaya. 


Restuti (2014) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menerangkan atau menjelaskan mengenai proses atau peristiwa alam maupun sosial”. Maksud dari pernyataan restuti yaitu teks eksplanasi memiliki pola penyajian menerangkan atau menjelaskan suatu terjadinya proses peristiwa atau fenomena. Artinya, setiap bagian proses fenomena harus memiliki penjelasan yang tepat. Sehingga penyajian penulisan teks eksplanasi dapat mudah dikenali oleh pembaca. 


Priyatni (2014) menyatakan, “Teks ekplanasi adalah teks yang berisiskan penjelasan tentang proses yang berhubungan dengan fenomena alam, sosial, budaya dan lainnya”. Artinya, sebuah teks eksplanasi harus berisikan proses atau peristiwa fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungan peserta didik, seperti fenomena banjir, gempa bmi, kebakaran hutan, gunung meletus. 


Pardiyono (2007) menyatakan, “Teks eksplanasi menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial”. Artinya, teks eksplanasi memaparkan tentang suatu proses peristiwa alam maupun sosial sesuai dengan fakta di kenyataannya. Berdasarkan hal tersebut, proses penyajian teks eksplanasi dapat disajikan sesuai kenyataan yang terjadi dengan data dan informasi yang terjadi sesuai kenyataan.


Berdasarkan ahli di atas dapat disimpulkan, teks eksplanasi adalah suatu teks yang memaparkan proses terjadinya fenomena alam, fenomena sosial, dan fenomena budaya yang dipaparkan secara sistematis kejadiannya dengan sajian yang informatif dan faktual. Maka peserta didik harus mampu menyajikan sebuah teks eksplanasi yang memiliki pola sebab-akibat, sajian data dan informasi yang akurat. 




Struktur Teks Eksplanasi 

Sebuah karya tulis eksplanasi memiliki struktur yang haru dipenuhi oleh penulis. Tujuan adanya struktur teks eksplanasi adalah agar penyajian teks eksplanasi logis atau sesuai dengan proses bagaimana terjadinya fenomena alam tersebut.

Mahsun (2014) menyatakan, “Teks eksplanasi disusun dengan struktur yang terdiri atau bagian-bagian yang memperlihatkan pernyataan umum (pembuka), deretan penjelas dan interpretasi atau penutup”. 
  1. Pernyataan umum (pembuka) Berisi tentang penjelasan umum mengenai fenomena yang akan dibahas, dapat berupa pengenalan fenomena tersebut atau penjelasannya. Penjelasan dalam teks eksplanasi berupa gambaran secara umum tentang apa, siapa, mengepa, kapan, dimana, dan bagaimana proses peristiwa tersebut dapat terjadi. 
  2. Deretan penjelas Berisi tentang penjelasan yang mendeskripsikan dan merincikan penyebab dan akibat dari peristiwa tersebut. 
  3. Interpretasi Berupa tanggapan maupun mengambil kesimpulan atau pernyataan yang ada dalam teks tersebut. 

Artinya, struktur teks eksplanasi tersusun dengan urutan pembuka yang berisikan penjelasan atau pengenalan topik fenomena, deretan penjelas yang memiliki pola penyajian data dan informasi di dalamnya, dan diakhiri dengan interpretasi dengan tujuan pembaca mampu memahami dampak atau proses terjadinya fenomena tersebut. 


Kosasih (2014) menyatakan, Struktur ekapalanasi terdapat beberapa bagian. 
  1. Identifikasi fenomena (phenomnon identification), mengidentifikasi sesuatu yang akan diterangkan. 
  2. Penggambaran rangkaian kejadian (explanation sequence) , merinci proses kejadian yang relevan dengan fenomena yang akan diterangkan sebagai pernyataan atas “bagaimana” atau “mengapa”.se-fase kejadiannya disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat 
  3. Rincian yang berpola atas pernyataan “bagaimana” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kronologis atau gradual. Dalam hal ini fasefase kejadiannya disusun berdasarkan urutan waktu. 
  4. Rincian yang berpola atas pertanyaan “mengapa” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kualitas. Dalal hal ini fa 
  5. Ulasan (review), berupa komentar atau penilaian tentang konsekuensi atas kejadian yang dipaparkan sebelumnya. 

Berdasarkan dari uraian di atas, struktur yang terdapat dalam teks eksplanasi terdapat tiga. Pertama identifikasi fenomena yang akan kita paparkan, seperti pengenalan fenomena. Kedua penggambaran rangkain kejadian fenomena itu terjadi. Ketiga ulasan tentang fenomena yang telah dipaparkan. Pada bagian ini keseluruhan rangkaian isi yang telah disajikan dalam fenomena tersebut disimpulkan dengan sudut pandang penulis. Jika penulisan teks eksplanai sesuai struktur, maka pembaca lebih mudah memahami teks



Sumber:
Isnatun dan Farida. (2013). Mahir Berbahasa Indonesia. Bogor: Yudhistira.


Sekian uraian tentang Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat...!

Kamis, 17 Desember 2020

Pengertian Dan Macam-macam Sudut Pandang

Pengertian Dan Macam-macam Sudut Pandang

Pengertian Sudut Pandang

“Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan cerita. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam cerita fiksi memang milik pengarang, yang antara lain berupa pandangan hidup dan tafsirannya terhadap kehidupan” (Nurgiyantoro, 2013). 

Berdasarkan pengertian di atas sudut pandang terbagi menjadi tiga macam, yaitu: 

a. Sudut Pandang Persona Ketiga: “Dia” Penghiasan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, gaya dia, narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata ganti; ia, dia, dan mereka. Sudut pandang persona ketiga meliputi: 
  1. “Dia” mahatahu, pengarang dapat menceritakan hal-hal yang menyangkut tokoh “Dia” tersebut. 
  2. “Dia” terbatas, Pengarang melukiskan yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada tokoh saja. 
b. Sudut Pandang Persona Pertama: “Aku” Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama, “aku”, gaya “aku”, narator adalah seseorang ikut terlibat dalam cerita.sudut pandang persona pertama meliputi: 
  1. “Aku” tokoh utama yaitu si “aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya. Si “aku” yang menjadi tokoh utama cerita oraktis mejadi tokoh protagonis. 
  2. “Aku” tokoh tambahan yaitu tokoh “aku” muncul bukan sebagai tokoh uatama, melainkan sebagai tokoh tambahan. 
c. Sudut Pandang Persona Kedua “Kau” meliputi: 
  1. “Kau” merupakan cara pengisahan yang mempergunakan kau yang biasanya sebagai variasi cara memandang oleh tokoh aku dan dia. 
  2. “Kau” biasanya dipakai mengoranglain-kan diri sendiri, melihat diri sendiri sebagai orang lain. 


Amanat

“Amanat adalah pesan yang akan disampaikan melalui cerita. Amanat baru dapat ditemukan setelah pembaca menyelesaikan seluruh cerita yang dibacanya. Amanat biasanya berupa nilai-nilai yang dititipkan penulis cerita kepada pembacanya. Sekecil apapun nilai dalam cerita pasti ada” (Ismawati, 2013).

Pengertian Novel

“Novel adalah sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek” (Nurgiyantoro, 2013). Ciptaan sebuah fiksi tergantung dengan kehidupan dan pengalaman pengarang, fiksi dapat diungkapkan dengan realitas hidup pengarang atau dapat diungkapkan dari pengalaman orang lain rasakan. 

Menurut Abram (Ismawati, 2013) ‘karya fiksi (novel) adalah karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata’.


Sumber:
Nurgiyantoro, Burhan. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sekian uraian tentang Pengertian Dan Macam-macam Sudut Pandang, semoga bermanfaat. 

Rabu, 07 Oktober 2020

Pengertian Wacana Menurut Para Ahli

Pengertian Wacana Menurut Para Ahli

Pengertian Wacana Menurut Para Ahli 
  1. Menurut Harimurti Kridalaksana, wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar dalam hierarki gramatikal. (1983:179 dalam Sumarlam, 2009). 
  2. Henry Guntur Tarigan (1987) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. 
  3. James Deese dalam karyanya Thought into Speech: the Psychology of a Language (1984, sebagaimana dikutip ulang oleh Sumarlam, 2009) menyatakan bahwa wacana adalah seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan suatu rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca. Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus muncul dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan oleh penyimak atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan, yaitu pengutaraan wacana itu. 
  4. Fatimah Djajasudarma (1994) mengemukakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, membentuk satu kesatuan, proposisi sebagai isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan pernyataan (statement) dalam bentuk kalimat atau wacana. 
  5. Hasan Alwi, dkk (2000) menjelaskan pengertian wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Dengan demikian sebuah rentetan kalimat tidak dapat disebut wacana jika tidak ada keserasian makna. Sebaliknya, rentetan kalimat membentuk wacana karena dari rentetan tersebut terbentuk makna yang serasi. 
  6. I.G.N. Oka dan Suparno (1994) menyebutkan wacana adalah satuan bahasa yang membawa amanat yang lengkap. 
  7. Sumarlam, dkk (2009) menyimpulkan dari beberapa pendapat bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu. 

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai batasan wacana di atas pengertian wacana adalah satuan bahasa lisan maupun tulis yang memiliki keterkaitan atau keruntutan antar bagian (kohesi), keterpaduan (koheren), dan bermakna (meaningful), digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Berdasarkan pegertian tersebut, persyaratan terbentuknya wacana adalah penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent)

Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan. 




Pengertian Analisis Wacana Menurut Para Ahli 
  1. Stubbs di dalam Discourse Analysis: The Sociolinguistic Analysis of Natural Language (1984) mengemukakan pendapatnya tentang analisis wacana, sebagaimana berikut ini. “ (Analisis wacana) merujuk pada upaya mengkaji pengaturan bahasa di atas klausa dan kalimat, dan karenanya juga mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih luas. Seperti pertukaran percakapan atau bahasa tulis. Konsekuensinya, analisis wacana juga memperhatikan bahasa pada waktu digunakan dalam konteks sosial, khususnya interaksi antarpenutur”. 
  2. Sarwiji Suwandi( 2008) mengemukakan bahwa analisis wacana pada hakikatnya merupakan kajian tentang fungsi bahasa atau penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi. 
  3. Cook (1997) menjelaskan bahwa the search for what gives discourse coherence is discourse analysis. “Wacana berhubungan dengan pengkajian koherensi”. 

Sumber : 
Cook, Guy. 1997. Discourse. Oxford: Oxford University Press. Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan antar Unsur. Bandung: Eresco.

Sekian uraian tentang Pengertian Wacana Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat.

Kamis, 24 September 2020

Pengertian Kalimat Kompleks dan Contohnya

Pengertian Kalimat Kompleks dan Contohnya

 Pengertian Kalimat Kompleks

Kalimat kompleks yang dikutip oleh Indriastuti dalam Buku Pintar Tenses (2009) adalah kalimat yang mengandung lebih dari satu proses pokok dan merupakan gabungan beberapa kalimat simpleks. Kalimat kompleks merupakan sebuah kalimat yang memiliki dua kata kerja utama dan biasanya kedua kalimat dalam sebuah kalimat kompleks dihubungkan oleh konjungsi atau kata penghubung. Maka dari itu kalimat kompleks ini sering juga atau bisa disebut dengan kalimat majemuk. Contoh: “Mama naik kereta dan papa naik becak”. 

Dalam kalimat di atas kita bisa melihat adanya dua predikat dalam sebuah kalimat. Kalimat pertama, S = Mama, P = naik, O = kereta, kalimat ini dihubungkan oleh sebuah konjungsi “dan” untuk menghubungkan dengan kalimat kedua, S = papa, P = naik, O = becak. Dalam sebuah kalimat kompleks terdapat dua kalimat yang masingmasing kalimat memiliki predikatnya sendiri, kemudian kalimat tersebut digabungkan dengan menggunakan kata penghubung, dalam contoh di atas kata penghubung yang digunakan adalah dan. Tidak selalu kalimat kompleks menggunakan kata penghubung di dalamnya, terkadang sebuah kalimat kompleks hanya dipisahkan oleh tanda koma, bahkan dalam beberapa kasus kalimat ini tidak dipisahkan oleh kata penghubung atau bahkan sebuah tanda baca. Contoh: “Ibu pergi, adik menangis”. 

Berikut percakapan lisan antara orang dewasa dengan kanak-kanak. 

Peneliti : Mama Febri ada di mana ? 
Febri : Pergi. 
Peneliti : Sama siapa mama pergi ? 
Febri : Papa. 
Peneliti : Ke mana mama dan papa pergi ? 
Febri : Mama naik kereta dan papa naik becak. 




Jenis Kalimat Kompleks 
Menurut Indriastuti dalam Buku Pintar Tenses (2009) jenis kalimat kompleks dibedakan seperti berikut. 

(a) Kalimat kompleks parataktik
 Kalimat kompleks parataktik dibentuk dari penggabungan dua klausa atau lebih dengan menggunakan konjungsi dan, tetapi, atau, dan maupun, atau tanda koma (,) dan titik koma (;). Konjungsi tersebut merupakan konjungsi struktural yang secara eksternal digunakan untuk menyampaikan gagasan yang mengandung logika sejajar. Artinya, klausa-klausa yang dihubungkan dengan konjungsi tersebut secara struktural memiliki kedudukan yang sejajar. Klausa-klausa tersebut tidak tergantung antara yang satu dengan yang lain, yaitu klausa yang satu tidak memberikan tambahan informasi kepada klausa yang lain. 

Contoh
  1. Saya yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku? 
  2. Susi anak orang kaya tetapi ia tidak sombong. 
  3. Guru itu membujuk dan anak itu tetap menangis. 
  4. Gia anak yang kurang pintar tetapi tidak malu untuk bertanya. 
(b) Kalimat kompleks hipotaktik 
Kalimat kompleks hipotaktik merupakan gabungan dari dua klausa atau lebih dengan menggunakan konjungsi struktural, yaitu: jadi, sebelum, sesudah, karena, apabila, walaupun, ketika, dan sebagainya. Klausa-klausa yang dirangkai tersebut tidak memiliki kedudukan yang sejajar, sebab konjungsi yang merangkainya secara eksternal menciptakan ketergantungan logika pada kalimat secara keseluruhan. Meskipun klausa yang satu tidak memberikan tambahan informasi kepada klausa yang lain, sebagian klausa yang lain memunyai ketergantungan. 

Contoh
  1. Nandia makan karena ia lapar. 
  2. Semua murid pulang ketika bel sudah berbunyi. 
  3. Adik memakai sepatu sebelum pergi ke sekolah. 
  4. Ia tidak sombong meskipun dia sangat pintar.

Sekian uraian tentang Pengertian Kalimat Kompleks dan Contohnya, semoga bermanfaat.
Pengertian Kalimat Kompleks dan Contohnya

Pengertian Kalimat Kompleks dan Contohnya

Pengertian Kalimat Kompleks
Kalimat kompleks yang dikutip oleh Indriastuti dalam Buku Pintar Tenses (2009) adalah kalimat yang mengandung lebih dari satu proses pokok dan merupakan gabungan beberapa kalimat simpleks. Kalimat kompleks merupakan sebuah kalimat yang memiliki dua kata kerja utama dan biasanya kedua kalimat dalam sebuah kalimat kompleks dihubungkan oleh konjungsi atau kata penghubung. Maka dari itu kalimat kompleks ini sering juga atau bisa disebut dengan kalimat majemuk. Contoh: “Mama naik kereta dan papa naik becak”. 

Dalam kalimat di atas kita bisa melihat adanya dua predikat dalam sebuah kalimat. Kalimat pertama, S = Mama, P = naik, O = kereta, kalimat ini dihubungkan oleh sebuah konjungsi “dan” untuk menghubungkan dengan kalimat kedua, S = papa, P = naik, O = becak. Dalam sebuah kalimat kompleks terdapat dua kalimat yang masingmasing kalimat memiliki predikatnya sendiri, kemudian kalimat tersebut digabungkan dengan menggunakan kata penghubung, dalam contoh di atas kata penghubung yang digunakan adalah dan. Tidak selalu kalimat kompleks menggunakan kata penghubung di dalamnya, terkadang sebuah kalimat kompleks hanya dipisahkan oleh tanda koma, bahkan dalam beberapa kasus kalimat ini tidak dipisahkan oleh kata penghubung atau bahkan sebuah tanda baca. Contoh: “Ibu pergi, adik menangis”. 

Berikut percakapan lisan antara orang dewasa dengan kanak-kanak. 

Peneliti : Mama Febri ada di mana ? 
Febri : Pergi. 
Peneliti : Sama siapa mama pergi ? 
Febri : Papa. 
Peneliti : Ke mana mama dan papa pergi ? 
Febri : Mama naik kereta dan papa naik becak. 




Jenis Kalimat Kompleks 
Menurut Indriastuti dalam Buku Pintar Tenses (2009) jenis kalimat kompleks dibedakan seperti berikut. 

(a) Kalimat kompleks parataktik
 Kalimat kompleks parataktik dibentuk dari penggabungan dua klausa atau lebih dengan menggunakan konjungsi dan, tetapi, atau, dan maupun, atau tanda koma (,) dan titik koma (;). Konjungsi tersebut merupakan konjungsi struktural yang secara eksternal digunakan untuk menyampaikan gagasan yang mengandung logika sejajar. Artinya, klausa-klausa yang dihubungkan dengan konjungsi tersebut secara struktural memiliki kedudukan yang sejajar. Klausa-klausa tersebut tidak tergantung antara yang satu dengan yang lain, yaitu klausa yang satu tidak memberikan tambahan informasi kepada klausa yang lain. 

Contoh
  1. Saya yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku? 
  2. Susi anak orang kaya tetapi ia tidak sombong. 
  3. Guru itu membujuk dan anak itu tetap menangis. 
  4. Gia anak yang kurang pintar tetapi tidak malu untuk bertanya. 
(b) Kalimat kompleks hipotaktik 
Kalimat kompleks hipotaktik merupakan gabungan dari dua klausa atau lebih dengan menggunakan konjungsi struktural, yaitu: jadi, sebelum, sesudah, karena, apabila, walaupun, ketika, dan sebagainya. Klausa-klausa yang dirangkai tersebut tidak memiliki kedudukan yang sejajar, sebab konjungsi yang merangkainya secara eksternal menciptakan ketergantungan logika pada kalimat secara keseluruhan. Meskipun klausa yang satu tidak memberikan tambahan informasi kepada klausa yang lain, sebagian klausa yang lain memunyai ketergantungan. 

Contoh
  1. Nandia makan karena ia lapar. 
  2. Semua murid pulang ketika bel sudah berbunyi. 
  3. Adik memakai sepatu sebelum pergi ke sekolah. 
  4. Ia tidak sombong meskipun dia sangat pintar.

Sekian uraian tentang Pengertian Kalimat Kompleks dan Contohnya, semoga bermanfaat.
Pengertian dan Contoh Paragraf Rumpang

Pengertian dan Contoh Paragraf Rumpang

 Paragraf merupakan kumpulan kalimat yang memiliki keterikatan serta kepaduan antar kalimat satu dengan yang lainnya. Sebuah paragraf terdiri atas kalimat pokok dan beberapa kalimat penjelas.

Adapun syarat-syarat sebuah paragraf adalah mengandung satu pikiran utama atau ide pokok yang didukung oleh pikiran penjelas. Pikiran-pikiran penjelas tersebut termuat dalam kalimat-kalimat penjelas pada paragraf. Keterpaduan antara kalimat utama dan penjelas menjadikan sebuah paragraf memiliki koherensi dan kesatuan yang padu.

Adapun paragraf rumpang adalah paragraf yang memiliki bagian-bagian kosong (rumpang) pada beberapa kalimat penjelas. Hal tersebut menjadikannya tidak memenuhi standar koherensi serta kesatuan padu sebuah paragraf sehingga perlu untuk dilengkapi dengan istilah / diksi yang tepat.



Cara mengisi paragraf yang rumpang yaitu:

  1. Isilah yang sesuai dengan kalimat sebelumnya.
  2. Kalimatnya tidak keluar dari topik
Agar lebih jelas, selanjutnya perhatikan paragraf berikut :

 Contoh 1 :

Telah kita ketahui bersama bahwa hutan memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia seperti hutan sebagai……(paru-paru) dunia. Istilah ini menggambarkan bahwa hutan sangat vital fungsinya seperti halnya organ tersebut ketika berada dalam tubuh manusia yakni menyediakan…..(oksigen) yang sangat diperlukan oleh tubuh. Bayangkan saja seandainya organ tersebut berhenti atau tidak lagi berfungsi, jelas akan timbul berbagai kerusakan dalam tubuh. Begitupula hutan dengan fungsi yang sama dalam konteks kehidupan semua manusia, maka ia sangat penting untuk dijaga. Tidak heran jika kini banyak upaya dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi yang bertujuan memperbaiki dan melindungi hutan. Salah satu upaya perbaikan yang dilakukan berupa……(reboisasi) yakni penanaman kembali hutan yang gundul sehingga ia dapat memainkan perannya kembali.

 

 Contoh 2 :

Besarnya peranan hutan dalam kehiduan manusia serta keseriusan dalam upaya menjaganya agar tetap lestari bukannlah tanpa tantangan. Adanya aktivitas…(penebangan liar) yang dilakukan oleh sekelompok oknum melahirkan sebuah ancaman baru bagi kelestarian hutan. Para oknum pelaku penebangan liar hanya mementingkan keuntungan pribadi sibuk menghancurkan apa yang sedang diperbaiki. Padahal upaya penanaman kembalu hutan yang telah rusak sedang giat-giatnya untuk digalakkan. Sebenarnya bukannya tidak diperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu untuk memenuhi keterbutuhan hajat hidup manusia. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah pola atau cara pengambilannya yang tidak boleh sembarangan. Pada dasarnya pohon-pohon yang ada di hutan pada usia dan ketentuan tertentu memang boleh ditebang. Hal ini biasa disebut dengan..(tebang pilih). Ketentuan yang berlaku dimaksudkan agar penebang bertanggung jawab dengan kelanjutan dari kehidupan hutan yang teramat penting tersebut.

 

Contoh 3 :

Dalam dunia penulisan dikenal juga sebuah pengungkapan dengan gaya bahasa yang biasa disebut…..(majas). Majas berfungsi untuk menghidupkan serta memberikan kesan tertentu pada sebuah tulisan. Gaya bahasa membantu sebuah tulisan menjadi lebih menarik untuk dibaca. Terdapat banyak jenis gaya bahasa, beberapa diantaranya yakni gaya bahasa yang melebihkan-lebihkan sesuatu atau biasa disebut…..(hiperbola) hingga gaya bahasa yang menggambarkan benda mati seakan hidup yaitu…..(personifikasi). “Cita-citanya setinggi……(langit)” adalah contoh penggunaan majas hiperbola yang memberi kesan luar biasa dalam kalimat. Adapun contoh lainnya seperti “Ia telah banyak memakan…..(asam garam) dalam hidup”, “Jakarta telah sesak dengan gedung-gedung….(pencakar langit)”, dan “Semangatnya begitu kuat layaknya….(baja)”. Kalimat-kalimat tersebut mengesankan kepada pembaca bahwa apa yang disampaikan itu begitu tidak biasa.

 

Selanjutnya perhatikan contoh kalimat rumpang pada beberapa penggalan paragraf berikut!

Contoh 4 :

… Membuat sebuah tulisan menjadi enak dibaca membutuhkan kemampuan dalam memilih … (diksi) atau pemilihan kata yang baik. Hal tersebut tentu berpengaruh besar terhadap para pembaca yang memiliki latar belakang usia, pemahaman, serta pola pikir yang berbeda-beda. Oleh karenanya dalam menulis, hendaknya turut memperhatikan aspek … (segmentasi) pembaca. Hal ini dilakukan agar penulis dapat menghasilkan karya yang sesuai dengan keterbutuhan pembacanya.

 

Contoh 5 :

…. Selanjutnya, dalam penulisan juga membutuhkan…..(kiasan) yakni kata yang dipakai untuk memberi rasa keindahan serta penekanan pada sesuatu yang ingin disampaikan meski tidak memiliki makna sebenarnya. Sebagai contoh penggunaan kata…….(panjang tangan) untuk menyebut prilaku para koruptor yang suka mencuri atau……(tebal muka) bagi mereka yang tidak punya rasa malu.

Contoh 6 :

…. Majas…..(personifikasi) mengibaratkan benda mati dapat melakukan hal-hal layaknya makhluk hidup. Sebagai contoh adalah seperti “Motor itu……(berlari) kencang sesaat setelah ditunggangi pembalap nasional Indonesia”, “Penggunaan elektronik yang….(mengonsumsi) banyak listrik sangat tidak efisien di waktu sekarang”, dan “Masakan yang disajikan ibu…..(memanggil-manggilku) untuk segera menyantapnya”. Pada contoh-contoh di atas benda mati diumpamakan seperti halnya benda hidup.

 

Contoh 7 :

Penanaman kembali hutan yang gundul memungkinkan daun-daun yang ada pada pohon untuk melakukan….(fotosintesis) dengan bantuan cahaya sehingga menghasilkan makanan dalam bentuk….(glukosa) dan oksigen. Kedua substansi ini akan dimamfaatkan oleh makhluk hidup untuk keberlangsungan hidupnya. Selanjutnya sampah pembuangan dari pernafasan berupa…. (karbon dioksida) yang dilepaskan kembali diproses oleh tumbuhan menjadi makanan dan oksigen. Siklus ini dapat terus berlangsung jika ketersediaan pohon terjaga.

 

Contoh 8 :

Reboisasi bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hidul manusia dengan jalan menyerap….(polusi) yang dihasilkan oleh lingkungan sekitar. Dengan reboisasi terjadinya…..(pemanasan global) yakni naiknya suhu permukaan bumi yang dapat mengakibatkan mencairnya es di kutub dapat perlahan ditekan. Ini menjadi sesuatu yang sangat diperlukan mengingat fenomena mencairnya es di kutub berpengaruh besar bagi kondisi alam ini.

Untuk Melengkapi Paragraf yang rumpang, Kita Harus Memahami kalimat sebelum dan sesudah kalimat yang dirumpangkan.

Berikut Contoh soal dan pembahasannya:

 

Cermatilah paragraf berikut!

Lembah Harau, di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat merupakan jurang yang besar dengan diameter mencapai 400 meter. Di Harau ini banyak keindahan yang memukau. Tebing-tebing granit menjulang tinggi dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah. ... Dari mulai memasuki Lembah Harau, pengunjung sudah menikmati tebing-tebing granit ini.


Kalimat  yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang dalam paragraf tersebut adalah ....

A. Tebing-tebing granit yang terjal ini mempunyai ketinggian 80-300 meter.
B. Sebagian pemanjat tebing dunia telah mengunjungi tempat ini untuk dipanjatnya.
C. Banyak orang membandingkan Lembah Harau yang indah dengan “Grand Canyon”.
D. Pengunjung menikmati keindahan alamnya dalam udara yang sangat segar dan bersih.
E. Tebing granit di Lembah Harau sudah lama menjadi daya tarik wisata Provinsi Sumatra Barat.


Pembahasan :
Pahami kalimat dan sesudah titik titik . kalimat yang tepat adalah “Tebing-tebing yang terjal ini mempunyai ketinggian 80-300 meter (kata-kata bergaris bawah merupakan kata sifat).

Jawaban : A


Sumber: 
Nurcholis, Hanif. Saya Senang Belajar Berbahasa Indonesia.Kelas V SD. Penerbit: Erlangga.


Sekian uraian tentang Pengertian dan Contoh Paragraf Rumpang, semoga bermanfaat.
Pengertian dan Contoh Paragraf Rumpang

Pengertian dan Contoh Paragraf Rumpang

Paragraf merupakan kumpulan kalimat yang memiliki keterikatan serta kepaduan antar kalimat satu dengan yang lainnya. Sebuah paragraf terdiri atas kalimat pokok dan beberapa kalimat penjelas.

Adapun syarat-syarat sebuah paragraf adalah mengandung satu pikiran utama atau ide pokok yang didukung oleh pikiran penjelas. Pikiran-pikiran penjelas tersebut termuat dalam kalimat-kalimat penjelas pada paragraf. Keterpaduan antara kalimat utama dan penjelas menjadikan sebuah paragraf memiliki koherensi dan kesatuan yang padu.

Adapun paragraf rumpang adalah paragraf yang memiliki bagian-bagian kosong (rumpang) pada beberapa kalimat penjelas. Hal tersebut menjadikannya tidak memenuhi standar koherensi serta kesatuan padu sebuah paragraf sehingga perlu untuk dilengkapi dengan istilah / diksi yang tepat.



Cara mengisi paragraf yang rumpang yaitu:

  1. Isilah yang sesuai dengan kalimat sebelumnya.
  2. Kalimatnya tidak keluar dari topik
Agar lebih jelas, selanjutnya perhatikan paragraf berikut :

 Contoh 1 :

Telah kita ketahui bersama bahwa hutan memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia seperti hutan sebagai……(paru-paru) dunia. Istilah ini menggambarkan bahwa hutan sangat vital fungsinya seperti halnya organ tersebut ketika berada dalam tubuh manusia yakni menyediakan…..(oksigen) yang sangat diperlukan oleh tubuh. Bayangkan saja seandainya organ tersebut berhenti atau tidak lagi berfungsi, jelas akan timbul berbagai kerusakan dalam tubuh. Begitupula hutan dengan fungsi yang sama dalam konteks kehidupan semua manusia, maka ia sangat penting untuk dijaga. Tidak heran jika kini banyak upaya dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi yang bertujuan memperbaiki dan melindungi hutan. Salah satu upaya perbaikan yang dilakukan berupa……(reboisasi) yakni penanaman kembali hutan yang gundul sehingga ia dapat memainkan perannya kembali.

 

 Contoh 2 :

Besarnya peranan hutan dalam kehiduan manusia serta keseriusan dalam upaya menjaganya agar tetap lestari bukannlah tanpa tantangan. Adanya aktivitas…(penebangan liar) yang dilakukan oleh sekelompok oknum melahirkan sebuah ancaman baru bagi kelestarian hutan. Para oknum pelaku penebangan liar hanya mementingkan keuntungan pribadi sibuk menghancurkan apa yang sedang diperbaiki. Padahal upaya penanaman kembalu hutan yang telah rusak sedang giat-giatnya untuk digalakkan. Sebenarnya bukannya tidak diperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu untuk memenuhi keterbutuhan hajat hidup manusia. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah pola atau cara pengambilannya yang tidak boleh sembarangan. Pada dasarnya pohon-pohon yang ada di hutan pada usia dan ketentuan tertentu memang boleh ditebang. Hal ini biasa disebut dengan..(tebang pilih). Ketentuan yang berlaku dimaksudkan agar penebang bertanggung jawab dengan kelanjutan dari kehidupan hutan yang teramat penting tersebut.

 

Contoh 3 :

Dalam dunia penulisan dikenal juga sebuah pengungkapan dengan gaya bahasa yang biasa disebut…..(majas). Majas berfungsi untuk menghidupkan serta memberikan kesan tertentu pada sebuah tulisan. Gaya bahasa membantu sebuah tulisan menjadi lebih menarik untuk dibaca. Terdapat banyak jenis gaya bahasa, beberapa diantaranya yakni gaya bahasa yang melebihkan-lebihkan sesuatu atau biasa disebut…..(hiperbola) hingga gaya bahasa yang menggambarkan benda mati seakan hidup yaitu…..(personifikasi). “Cita-citanya setinggi……(langit)” adalah contoh penggunaan majas hiperbola yang memberi kesan luar biasa dalam kalimat. Adapun contoh lainnya seperti “Ia telah banyak memakan…..(asam garam) dalam hidup”, “Jakarta telah sesak dengan gedung-gedung….(pencakar langit)”, dan “Semangatnya begitu kuat layaknya….(baja)”. Kalimat-kalimat tersebut mengesankan kepada pembaca bahwa apa yang disampaikan itu begitu tidak biasa.

 

Selanjutnya perhatikan contoh kalimat rumpang pada beberapa penggalan paragraf berikut!

Contoh 4 :

… Membuat sebuah tulisan menjadi enak dibaca membutuhkan kemampuan dalam memilih … (diksi) atau pemilihan kata yang baik. Hal tersebut tentu berpengaruh besar terhadap para pembaca yang memiliki latar belakang usia, pemahaman, serta pola pikir yang berbeda-beda. Oleh karenanya dalam menulis, hendaknya turut memperhatikan aspek … (segmentasi) pembaca. Hal ini dilakukan agar penulis dapat menghasilkan karya yang sesuai dengan keterbutuhan pembacanya.

 

Contoh 5 :

…. Selanjutnya, dalam penulisan juga membutuhkan…..(kiasan) yakni kata yang dipakai untuk memberi rasa keindahan serta penekanan pada sesuatu yang ingin disampaikan meski tidak memiliki makna sebenarnya. Sebagai contoh penggunaan kata…….(panjang tangan) untuk menyebut prilaku para koruptor yang suka mencuri atau……(tebal muka) bagi mereka yang tidak punya rasa malu.

Contoh 6 :

…. Majas…..(personifikasi) mengibaratkan benda mati dapat melakukan hal-hal layaknya makhluk hidup. Sebagai contoh adalah seperti “Motor itu……(berlari) kencang sesaat setelah ditunggangi pembalap nasional Indonesia”, “Penggunaan elektronik yang….(mengonsumsi) banyak listrik sangat tidak efisien di waktu sekarang”, dan “Masakan yang disajikan ibu…..(memanggil-manggilku) untuk segera menyantapnya”. Pada contoh-contoh di atas benda mati diumpamakan seperti halnya benda hidup.

 

Contoh 7 :

Penanaman kembali hutan yang gundul memungkinkan daun-daun yang ada pada pohon untuk melakukan….(fotosintesis) dengan bantuan cahaya sehingga menghasilkan makanan dalam bentuk….(glukosa) dan oksigen. Kedua substansi ini akan dimamfaatkan oleh makhluk hidup untuk keberlangsungan hidupnya. Selanjutnya sampah pembuangan dari pernafasan berupa…. (karbon dioksida) yang dilepaskan kembali diproses oleh tumbuhan menjadi makanan dan oksigen. Siklus ini dapat terus berlangsung jika ketersediaan pohon terjaga.

 

Contoh 8 :

Reboisasi bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hidul manusia dengan jalan menyerap….(polusi) yang dihasilkan oleh lingkungan sekitar. Dengan reboisasi terjadinya…..(pemanasan global) yakni naiknya suhu permukaan bumi yang dapat mengakibatkan mencairnya es di kutub dapat perlahan ditekan. Ini menjadi sesuatu yang sangat diperlukan mengingat fenomena mencairnya es di kutub berpengaruh besar bagi kondisi alam ini.

Untuk Melengkapi Paragraf yang rumpang, Kita Harus Memahami kalimat sebelum dan sesudah kalimat yang dirumpangkan.

Berikut Contoh soal dan pembahasannya:

 

Cermatilah paragraf berikut!

Lembah Harau, di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat merupakan jurang yang besar dengan diameter mencapai 400 meter. Di Harau ini banyak keindahan yang memukau. Tebing-tebing granit menjulang tinggi dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah. ... Dari mulai memasuki Lembah Harau, pengunjung sudah menikmati tebing-tebing granit ini.


Kalimat  yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang dalam paragraf tersebut adalah ....

A. Tebing-tebing granit yang terjal ini mempunyai ketinggian 80-300 meter.
B. Sebagian pemanjat tebing dunia telah mengunjungi tempat ini untuk dipanjatnya.
C. Banyak orang membandingkan Lembah Harau yang indah dengan “Grand Canyon”.
D. Pengunjung menikmati keindahan alamnya dalam udara yang sangat segar dan bersih.
E. Tebing granit di Lembah Harau sudah lama menjadi daya tarik wisata Provinsi Sumatra Barat.


Pembahasan :
Pahami kalimat dan sesudah titik titik . kalimat yang tepat adalah “Tebing-tebing yang terjal ini mempunyai ketinggian 80-300 meter (kata-kata bergaris bawah merupakan kata sifat).

Jawaban : A


Sumber:
Nurcholis, Hanif. Saya Senang Belajar Berbahasa Indonesia.Kelas V SD. Penerbit: Erlangga.


Sekian uraian tentang Pengertian dan Contoh Paragraf Rumpang, semoga bermanfaat.
Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Teks Eksposisi

Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Teks Eksposisi

Jauhari (2013) mengatakan bahwa, eksposisi secara leksikal berasal dari kata bahasa inggris exsposition, yang artinya “membuka”. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa karangan atau teks eksposisi bertujuan untuk menerangkan, menguraikan, dan mengupas sesuatu. Banyak sekali karangan eksposisi di lingkungan sekitar yang kita ketahui. Sering sekali kita membaca cara-cara membuat kue, petunjuk menggunakan barang-barang elektronik. Itu semua merupakan teks eksposisi. 

Kosasih (2012) menyatakan bahwa, teks atau karangan eksposisi adalah karangan yang mempunyai tujuan untuk memberikan informasi tentang sesuatu  sehingga bisa memperluas pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi berisi fakta ilmiah/nonfiksi. 

Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa teks eksposisi merupakan teks atau tulisan yang menjelaskan tentang pengetahuan dan informasi yang di dalamnya terdapat fakta. 




Jenis-jenis Teks Eksposisi 
Struktur Teks Eksposisi 
Menurut Tim Kemendikbud (2013) menyatakana bahwa, teks eksposisi memiliki tiga bentuk yaitu pertanyaan pendapat (tesis), argumentasi, penegasan ulang pendapat. 

a. Tesis 
Marahimin (2010) mengatakan bahwa, tesis adalah inti sebuah eksposisi. Kadang-kadang tesis ini tidak terungkap di dalam sebuah kalimat di dalam eksposisi itu, hanya tersirat saja. Tesis ini dapat kita ungkapan dalam sebuah kalimat yang utuh, atau penggal sebuah kalimat yang utuh. 

Tarigan (2008) mengatakan bahwa, pernyataan tesis adalah kalimat sederhana deklaratif (bersifat menjelaskan). Tesis hendaknya menjelaskan maksud penulis, tetapi hal ini tidaklah selalu dinyatakan secara eksplisit bisa juga dinyatakan secara implisit saja. 

Berdasarkan uraian di atas dapat simpulkan bahwa tesis adalah gambaran tentang argumentasi yang akan disajikan oleh si penulis, namun keberadaan tesis dalam sebuah paragraf tidak selalu dinytakan secara langsung bi-asanya 18 tesisi ini dinyatakan secara tidak langsung dan hanya sekilas untuk gam-baran apa yang akan disingkap dalam teks atau uraian tersebut. 

b. Argumentasi 
Semi (2007) mengatakan bahwa, argumentasi adalah tulisan yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang kebenaran pendapat penulis. 

Kosasih (2012:19) menyatakan bahwa, pengertian argumen bermakna „alasan‟. Argumentasi berberarti pemberian alasan yang kuat dan meyakinkan. Dengan demikian, paragraf argumentasi adalah paragraf yang mengemukakan alasan, contoh dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Alasan-alasan, bukti, dan sejenisnya digunakan penulis untuk mempengaruhi pembaca agar mereka menye-tujui pendapat, sikap, atau meyakinkan.

Keraf (1981) mengemukakan bahwa, argumentasi adalah suatu retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak. 

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa argumentasi adalah suatu retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis, yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca. 


Ciri-ciri Teks Eksposisi 
Suatu teks tentunya mempunyai ciri yang berbeda dengan teks satu dan lainnya, memberikan pengetahuan, informasi kepada pembacanya merupakan ciri dari teks eksposisi, agar penulis dapat membuat teks eksposisi dengan baik sehingga eksposisi yang dihasilkan dapat diterima pembacanya. 

Keraf (1981) berpendapat bahwa, ciri eksposisi lebih senang menggunakan gaya bahasa yang bersifat informatif. Informasi yang dapat bermanfaat bagi pembacanya. 

Semi (2007) mengatakan bahwa, ciri-ciri teks eksposisi ialah sebagai berikut. 
  1. Tulisan itu bertujuan memberikan informasi, pengertian, dan pengetahuan. 
  2. Tulisan itu bersifat menjawab pertanyaan apa, mengapa, kapan, dan bagaimana.
  3. Disampaikan dengan gaya yang lugas dan menggunakan bahasa baku. 
  4. Umumnya disajikan dengan menggunakan susunan logis. 
  5. Disajikan dengan netral tidak memancing emosi, tidak memihakkan, memaksakan sikap penulis kepada pembaca.  
Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa eksposisi adalah suatu tulisan yang memberikan uraian, informasi kepada pembacanya dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, kapan, dimana, dan bagaimana pada teks eksposisi yang membuat penulis dan bagi pembacanya dapat memberikan informasi, pengetahuan mengenai suatu hal tertentu, dan tidak mem-punyai sifat ajakan atau memaksa kepada pembacanya.


Sumber:
Jauhari, H. 2013. Terampil Mengarang. Bandung: Nuansa Cendika.
Kosasih, E. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.

Sekian uraian tentang Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Teks Eksposisi, semoga bermanfaat.
Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Teks Eksposisi

Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Teks Eksposisi

Jauhari (2013) mengatakan bahwa, eksposisi secara leksikal berasal dari kata bahasa inggris exsposition, yang artinya “membuka”. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa karangan atau teks eksposisi bertujuan untuk menerangkan, menguraikan, dan mengupas sesuatu. Banyak sekali karangan eksposisi di lingkungan sekitar yang kita ketahui. Sering sekali kita membaca cara-cara membuat kue, petunjuk menggunakan barang-barang elektronik. Itu semua merupakan teks eksposisi. 


Kosasih (2012) menyatakan bahwa, teks atau karangan eksposisi adalah karangan yang mempunyai tujuan untuk memberikan informasi tentang sesuatu  sehingga bisa memperluas pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi berisi fakta ilmiah/nonfiksi. 

Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa teks eksposisi merupakan teks atau tulisan yang menjelaskan tentang pengetahuan dan informasi yang di dalamnya terdapat fakta. 




Jenis-jenis Teks Eksposisi 
Struktur Teks Eksposisi 
Menurut Tim Kemendikbud (2013) menyatakana bahwa, teks eksposisi memiliki tiga bentuk yaitu pertanyaan pendapat (tesis), argumentasi, penegasan ulang pendapat. 

a. Tesis 
Marahimin (2010) mengatakan bahwa, tesis adalah inti sebuah eksposisi. Kadang-kadang tesis ini tidak terungkap di dalam sebuah kalimat di dalam eksposisi itu, hanya tersirat saja. Tesis ini dapat kita ungkapan dalam sebuah kalimat yang utuh, atau penggal sebuah kalimat yang utuh. 

Tarigan (2008) mengatakan bahwa, pernyataan tesis adalah kalimat sederhana deklaratif (bersifat menjelaskan). Tesis hendaknya menjelaskan maksud penulis, tetapi hal ini tidaklah selalu dinyatakan secara eksplisit bisa juga dinyatakan secara implisit saja. 

Berdasarkan uraian di atas dapat simpulkan bahwa tesis adalah gambaran tentang argumentasi yang akan disajikan oleh si penulis, namun keberadaan tesis dalam sebuah paragraf tidak selalu dinytakan secara langsung bi-asanya 18 tesisi ini dinyatakan secara tidak langsung dan hanya sekilas untuk gam-baran apa yang akan disingkap dalam teks atau uraian tersebut. 

b. Argumentasi 
Semi (2007) mengatakan bahwa, argumentasi adalah tulisan yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang kebenaran pendapat penulis. 

Kosasih (2012:19) menyatakan bahwa, pengertian argumen bermakna „alasan‟. Argumentasi berberarti pemberian alasan yang kuat dan meyakinkan. Dengan demikian, paragraf argumentasi adalah paragraf yang mengemukakan alasan, contoh dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Alasan-alasan, bukti, dan sejenisnya digunakan penulis untuk mempengaruhi pembaca agar mereka menye-tujui pendapat, sikap, atau meyakinkan.

Keraf (1981) mengemukakan bahwa, argumentasi adalah suatu retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak. 

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa argumentasi adalah suatu retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis, yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca. 


Ciri-ciri Teks Eksposisi 
Suatu teks tentunya mempunyai ciri yang berbeda dengan teks satu dan lainnya, memberikan pengetahuan, informasi kepada pembacanya merupakan ciri dari teks eksposisi, agar penulis dapat membuat teks eksposisi dengan baik sehingga eksposisi yang dihasilkan dapat diterima pembacanya. 

Keraf (1981) berpendapat bahwa, ciri eksposisi lebih senang menggunakan gaya bahasa yang bersifat informatif. Informasi yang dapat bermanfaat bagi pembacanya. 

Semi (2007) mengatakan bahwa, ciri-ciri teks eksposisi ialah sebagai berikut. 
  1. Tulisan itu bertujuan memberikan informasi, pengertian, dan pengetahuan. 
  2. Tulisan itu bersifat menjawab pertanyaan apa, mengapa, kapan, dan bagaimana.
  3. Disampaikan dengan gaya yang lugas dan menggunakan bahasa baku. 
  4. Umumnya disajikan dengan menggunakan susunan logis. 
  5. Disajikan dengan netral tidak memancing emosi, tidak memihakkan, memaksakan sikap penulis kepada pembaca.  
Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa eksposisi adalah suatu tulisan yang memberikan uraian, informasi kepada pembacanya dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, kapan, dimana, dan bagaimana pada teks eksposisi yang membuat penulis dan bagi pembacanya dapat memberikan informasi, pengetahuan mengenai suatu hal tertentu, dan tidak mem-punyai sifat ajakan atau memaksa kepada pembacanya.


Sumber:
Jauhari, H. 2013. Terampil Mengarang. Bandung: Nuansa Cendika.
Kosasih, E. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.

Sekian uraian tentang Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Teks Eksposisi, semoga bermanfaat.

Senin, 14 September 2020

Pengertian Pemahaman Menurut Para Ahli

Pengertian Pemahaman Menurut Para Ahli

Pemahaman berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti benar, sedangkan pemahaman merupakan proses pembuatan cara memahami (Em Zul, Fajri & Ratu Aprilia Senja, 2008). 

Pemahaman berasal dari kata paham yang artinya (1) pengertian; pengetahuan yang banyak, (2) pendapat, pikiran, (3) aliran; pandangan, (4) mengerti benar (akan); tahu benar (akan); (5) pandai dan mengerti benar, apabila mendapat imbuhan me-i menjadi memahami, berarti; (1) mengetahui benar, (2) pembuatan, (3) cara memahami atau memahamkan (mempelajari baik-baik supaya paham) (Depdikbud, 1994: 74), sehingga dapat diartikan bahwa pemahaman adalah suatu proses, cara memahami, cara mempelajari baik-baik supaya paham dan mengetahui banyak. 


Gambar: Pengertian Pemahaman


Pengertian Pemahaman Menurut Para Ahli 

Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Pemahaman adalah sesuatu hal yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar. Pemahaman menurut: (1) Sudirman adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan carnya sendiri tentang pengetahuan yang pernah deterimanya, (2) Suharsimi menyatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan.(3) Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta – fakta atau konsep. 

Menurut Poesprodjo (1987) bahwa pemahaman bukan kegiatan berpikir semata, melainkan pemindahan letak dari dalam berdiri di situasi atau dunia orang lain. Mengalami kembali situasi yang dijumpai pribadi lain di dalam erlebnis (sumber pengetahuan tentang hidup, kegiatan melakukan pengalaman pikiran), pemahaman yang terhayati. Pemahaman merupakan suatu kegiatan berpikir secara diam-diam, menemukan dirinya dalam orang lain. 

Bentuk-bentuk Pemahaman 

Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari (W.S. Winkel, 1996). W.S Winkel mengambil dari taksonmi Bloom, yaitu suatu taksonomi yang dikembangkan untuk mengklasifikasikan tujuan instruksional. Bloom membagi kedalam 3 kategori, yaitu termasuk salah satu bagian dari aspek kognitif karena dalam ranah kognitif tersebut terdapat aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Keenam aspek di bidang kognitif ini merupakan hirarki kesukaran tingkat berpikir dari yang rendah sampai yang tertinggi. 

Hasil belajar pemahaman merupakan tipe belajar yang lebih tinggi dibandingkan tipe belajar pengetahuan (Nana Sudjana, 1992) menyatakan bahwa pemahaman dapat dibedakan kedalam 3 kategori, yaitu : 
  1. tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan dan menerapkan prinsip-prinsip,
  2. tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran yaitu menghubungkan bagian-bagian terendah dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan yang tidak pokok dan
  3. tingkat ketiga merupakan tingkat pemaknaan ektrapolasi. 

Memiliki pemahaman tingkat ektrapolasi berarti seseorang mampu melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat estimasi, prediksi berdasarkan pada pengertian dan kondisi yang diterangkan dalam ide-ide atau simbol, serta kemempuan membuat kesimpulan yang dihubungkan dengan implikasi dan konsekuensinya. 

Sejalan dengan pendapat diatas, (Suke Silversius, 1991) menyatakan bahwa pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu : (1) menerjemahkan (translation), pengertian menerjemahkan disini bukan saja pengalihan (translation), arti dari bahasa yang satu kedalam bahasa yang lain, dapat juga dari konsepsi abstrak menjadi suatu model, yaitu model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya. Pengalihan konsep yang dirumuskan dengan kata –kata kedalam gambar grafik dapat dimasukkan dalam kategori menerjemahkan, (2) menginterprestasi (interpretation), kemampuan ini lebih luas daripada menerjemahkan yaitu kemampuan untuk mengenal dan memahami ide utama suatu komunikasi, (3) mengektrapolasi (Extrapolation), agak lain dari menerjemahkan dan menafsirkan, tetapi lebih tinggi sifatnya. Ia menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi. 

Menurut Suharsimi Arikunto (1995) pemahaman (comprehension) siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Menurut Nana Sudjana (1992) pemahaman dapat dibedakan dalam tiga kategori antara lain : (1) tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan prinsip-prinsip, (2) tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yaitu menghubungkan bagian-bagian terendah dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok, dan (3) tingkat ketiga merupakan tingkat tertinggi yaitu pemahaman ektrapolasi. 


Sumber:
EM Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Edisi Revisi, Cet. 3, Semarang: Difa Publishers, 2008,  

Sekian uraian tentang Pengertian Pemahaman Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat.

Senin, 20 April 2020

Pengertian Dan Jenis Wayang Menurut Para Ahli

Pengertian Dan Jenis Wayang Menurut Para Ahli

Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia. UNESCO, lembaga yang mengurusi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka tersohor berasal dari Indonesia. Wayang merupakan warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). 

Para wali songo, penyebar agama Islam di Jawa sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang kulit di Timur, wayang wong atau wayang orang di Jawa Tengah, dan wayang golek atau wayang boneka di Jawa Barat. Penjenisan tersebut disesuaikan dengan penggunaan bahan wayang. Wayang kulit dibuat dari kulit hewan ternak, misalnya kulit kerbau, sapi, atau kambing. Wayang wong berarti wayang yang ditampilkan atau diperankan oleh orang. Wayang golek adalah wayang yang menggunakan boneka kayu sebagai pemeran tokoh. Selanjutnya, untuk mempertahankan budaya wayang agar tetap dicintai, seniman mengembangkan wayang dengan bahan-bahan lain, antara lain wayang suket dan wayang motekar. 

Gambar: Pengertian Dan Jenis Wayang

Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, serta diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit. 

Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur.

Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut kali pertama dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen. 

Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Jenis wayang ini disebut suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.

Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Namun, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayangbayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus. 

Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan. Wayang bermanfaat sebagai media pendidikan karena isinya banyak memberikan ajaran kehidupan kepada manusia. Pada era modern ini, wayang juga banyak digunakan sebagai media informasi. Ini antara lain dapat kita lihat pada pagelaran wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya. Yang terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan.


Sumber: http://istiqomahalmaky.blogspot.co.id

Sekian uraian tentang Pengertian dan Jenis Wayang, semoga bermanfaat.

Minggu, 12 April 2020

Pengertian Hegemoni Menurut Para Ahli

Pengertian Hegemoni Menurut Para Ahli

Menurut Grmasci (dalam Patria dan Arief, 2015:117) mengungkapkan hegemoni sebagai supermasi sebuah kelompok yang mewujudkan diri dalam dua cara yaitu sebagai ‘dominasi’ dan sebagai ‘kepemimpinan intelektual dan moral. Di satu pihak, sebuah kelompok sosial mendominasi kelompok-kelompok oposisi untuk ‘menghancurkan’ atau menundukkan mereka, bahkan mungkin dengan menggunakan kekuatan bersenjata; di lain pihak, kelompok sosial memimpin kelompok-kelompok kerabat dan sekutu mereka. 

Lebih lanjut Patria dan Arief (2015:117) mengemukakan bahwa sebuah kelompok sosial dapat dan bahkan harus sudah menerapkan “kepemimpinan” sebelum memegang kekuasaan pemerintahan (kepemimpinan tersebut merupakan salah satu dari syarat-syarat utama untuk memenangkan kekuasaan semacam itu). Kelompok sosial tersebut kemudian menjadi dominan ketika dia mempraktekkan kekuasaan, tapi bahkan bila dia telah memegang kekuasaan penuh di tangannya, dia masih harus terus “memimpin” juga.

Menurut Kurniawan (2012:71) mengemukakan bahwa hegemoni dalam bahasa Yunani kuno disebut ‘euge-mania’ yang menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota (polis) secara individual. Hegemoni menunjukkan sebuah kepemimpinan dari suatu negara tertentu yang bukan hanya sebuah negara kota terhadap negara-negara lain yang berhubungan secara longgar maupun secara integritas dalam negara “pemimpin” Patria dan Arief, (2015:115-116).

Menurut Faruk (2013:142) mendefinisikan hegemoni sebagai sesuatu yang kompleks, yang sekaligus bersifat ekonomik dan etis-politis. Kompleksitas ini terjadi, karena prinsip yang dipegang teguh oleh Gramsci untuk menyatukan dan menyempurnakan pendapat Marxim ortodoks dan filsafat liberal.

Gambar: Pengertian Hegemoni

Menurut Fontana dalam Erika (2013:20) hegemoni adalah sebuah perumusan dan penjabaran mengenai konsepsi moral dan intelektual dan budaya yang mengubah pandangan masyarakat berubah menjadi cara hidup dan bentuk karakteristik setiap orang. Hegemoni, pada kenyataannya, justru lebih sintesis dari pada antitensis yang menempatkan keseluruhan perbedaan anatara pikiran dan tindakan, etika dan politik, budaya dan orang-orang. Hegemoni pada dasarnya dipahami seagai perbedaan dimana kelompok-kelompok sosial yang dominan membentuk suatu sistem “persetujuan permanen” yang melegitimasi suatu tatanan sosial yang berlaku dengan meliputi jaringan yang kompleks dan saling memperkuat ide-ide terjalin ditegaskan dan diartikulasikan oleh para intelektual Fontana (dalam Erika, 2013: 20).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Gramsci mengakui bahwa dalam suatu hegemoni harus ada dua komponen yang saling berkaitan yaitu “dominasi” dan “kempemimpinan moral dan intelektual”. Kepemimpinan moral dan intelektual diperlukan untuk menjalin sebuah kesepakatan, sedangkan dominasi diperlukan juga untuk mengatur bawahan yang tidak melakukan perintah penguasa. Namun, dominasi tidak boleh lebih menonjol dari pada kepemimpinan moral dan intelektual, karena dapat menciptakan pemerintahan yang otoriter. Oleh karenanya diperlukan keseimbangan terhadap keduankomponen tersebut.


Sumber: Arief,  Nezar  Patria  dan  Andi.  2003. Antonio  Gramsci  Negara  &  Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sekian uraian tentang Pengertian Hegemoni Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat.